Pemasangan fire suppression system akan sia-sia jika ia menjadi sistem yang bekerja sendiri. Kelebihan sistem ini terletak pada kemampuannya untuk berintegrasi dengan sistem yang lain. Hal ini menciptakan sistem keamanan yang lebih tinggi dan bergerak otomatis.
Artikel ini membahas konsep dasar sampai implementasi teknis praktek integrasi fire suppression system dengan sistem keamanan gedung.
Komponen yang Terintegrasi dalam Sistem
Sebelum membahas lebih lanjut mari kenal satu per satu komponen-komponen yang saling berkaitan dalam sistem. Ketiga sistem ini bekerja secara bersamaan pada saat kebakaran terjadi dalam rangka menjaga keselamatan para pengguna gedung sekaligus mengontrol kerugian agar tidak terlalu besar.
Fire Suppression System (FSS)
FSS adalah sistem pemadam kebakaran yang bisa bekerja secara otomatis melepaskan agen pemadam kebakaran jika terdapat asap atau panas yang terdeteksi oleh detektor. Secara khusus untuk ruang server agen yang dilepaskan berbentuk gas khusus yang tidak meninggalkan residu dan aman bagi peralatan elektronik. FSS sendiri memiliki komponen seperti alarm, detektor, panel kontrol, tangki agen pemadam kebakaran, nozzle, dll.
Building Management System (BMS)
BMS adalah sistem integrasi gedung yang mengelola seluruh sistem mekanikal dan elektrikal gedung, seperti HVAC, pencahayaan, keamanan, dan penggunaan energi. Dalam kaitannya dengan FSS, sistem ini bekerja sebagai agregator data untuk seluruh sistem yang bekerja pada gedung sekaligus sebagai dashboard untuk mengawasi seluruh sistem yang berjalan.
Sistem Keamanan Gedung
Untuk menjaga gedung dari bahaya kebakaran yang mengancam, sistem keamanan gedung berfungsi untuk mengontrol detektor kebakaran, mengontrol sistem kendali akses pintu dan ruangan, CCTV, sistem distribusi daya, dan sistem ventilasi darurat.
Skenario Integrasi Antar Komponen
Tahap 1: Deteksi Awal
VESDA adalah sistem deteksi asap sangat dini yang berbasis laser untuk mendeteksi kebakaran di tahapan paling awal. Sistem ini mendeteksi dari sampel udara yang terus-menerus dianalisis. Sistem ini memungkinkan deteksi kebakaran bisa dilakukan sedini mungkin. Pada tahap ini sistem bekerja sebagai berikut:
- BMS menangkap sinyal deteksi awal dari VESDA dan mencatat timestamp serta lokasi sensor yang aktif
- CCTV secara otomatis mengarahkan kamera ke area yang terindikasi adanya asap atau panas
- Notifikasi dikirimkan kepada petugas keamanan maupun teknisi gedung melalui sistem BMS, email, atau SMS gateaway
- BMS menampilkan alert pada dashboard kontrol dengan informasi zona dan tingkat konsentrasi asap
Tahap 2: Konfirmasi Alarm
Sistem FSS modern tidak langsung melepaskan agen kebakaran setelah menerima sinyal untuk mencegah respon pada false alarm. Sistem ini akan mengumpulkan sampel dari 2 area yang berbeda.
- Sistem mendeteksi adanya panas atau asap yang tidak wajar
- Sistem akan menganalisis zona pertama untuk masuk dalam status ‘pre-discharge’. Hal ini juga akan mengaktifkan sirene dan strobe light pre-discharge
- BMS menerima status ‘pre-discharge’ dan mulai mengaktifkan sistem otomasi
- Jika zona kedua juga telah dikonfirmasi ada panas atau asap tidak wajar, maka insiden dianggap nyata dan bukan hanya false alarm
Tahap 3: Countdown
Pada tahapan ini sistem telah mengkonfirmasi bahwa ada bahaya kebakaran nyata yang sedang terjadi. Pada tahapan ini, BMS akan melakukan berbagai hal seperti
- Menonaktifkan sistem HVAC sehingga agen pemadam kebakaran yang dilepaskan pada ruangan tidak keluar ruangan
- Menutup damper pada ducting untuk mengisolasi ruangan yang terbakar
- Menyalakan lampu darurat untuk memudahkan evakuasi
- Mematikan lift dan mengembalikannya ke lantai dasar serta menguncinya agar tidak digunakan sebagai jalur evakuasi
Tahap 4: Fase Discharge
Setelah tahpan countdown selesai, artinya proses evakuasi dianggap sudah berhasil dilakukan. Berikutnya FSS akan melepaskan agen pemadam kebakaran melalui nozzle. FSS akan mengirimkan sinyal ‘released’ pada BMS dan BMS memperbarui status pada dashboar untuk laporan real-time. Bila kebakaran menjadi lebih besar dan tetap tak terhindarkan alarm eksternal dapat dinyalakan sebagai tanda meminta bantuan pada petugas pemadam kebakaran.
Tahap 5: Fase Pemulihan
Setelah pemadaman, sistem memasuki tahapan pemulihan
- Sistem HVAC tetap non-aktif untuk mencegah adanya oksigen yang masuk lagi yang bisa memicu api nyala kembali. Namun, exhaust fan dapat diaktifkan untuk membantu mempercepat pembuangan sisa agen
- BMS menuliskan laporan kejadian secara otomatis terkait waktu kejadian, sensor apa saja yang aktif, tindakan apa yang diambil, dan berapa durasinya
- Tangki agen diisi ulang dan direset kembali
Integrasi Fire Suppression System dengan BMS dan sistem keamanan gedung adalah keharusan untuk fasilitas ruang server dan data center yang serius dalam hal kelangsungan operasional dan keselamatan aset.
Integrasi yang dirancang dengan baik menghasilkan respons insiden yang lebih cepat, lebih terkoordinasi, dan lebih dapat diandalkan. Sekuens otomasi yang tepat — dari HVAC shutdown hingga access control lockdown — memaksimalkan efektivitas agen pemadam sekaligus melindungi personel yang berada di fasilitas.
Untuk mengetahui agen apa yang tepat bagi ruang server Anda, baca juga artikel FM-200 vs. Novec 1230: Mana Agen yang Lebih Tepat untuk Ruang Server Anda?


